kebidananpada kala I, II, III, IV, rujukan yang tepat pada kondisi kasus persalinan dengan komplikasi dan kegawatdaruratan, komunikasi efektif, asuhan kebidanan dengan memperhatikan aspek psikologi, sosial budaya, etika hukum dan perundang undangan, serta kebutuhan gizi dalam asuhan dalam asuhan kebidanan pada masa persalinan. AsuhanPersalinan Normal dan Inisiasi Menyusu Dini. Jakarta : JNPK-KR, Maternal Neonatal Care, Departemen Kesehatan Republik Indonesia. Sulistyawati, Ari dan Nugraheny, Esti. 2013. Asuhan Kebidanan Pada Ibu Bersalin. Jakarta : Salemba Medika Walyani dkk. 2016. Asuhan Kebidanan Persalinan dan Bayi Baru Lahir. Yogyakarta : Pustaka Baru Press. Padaasuhan kebidanan untuk akseptor KB, penulis melakukan penatalaksanaan pada Ny "L" sebagaimana untuk akseptor lama KB suntik 3 bulan, karena tidak ditemukan masalah ibu diberi KIE efek samping normal KB suntik 3 bulan, tanda bahaya Kb suntik 3 bulan dan kunjungan ulang. 1 Menggosok gigi,ingatkan ibu bersalin untuk membawa sikat dan pasta gigi kerumah sakit atau rumah bersalin untuk digunakan selam persalinan 2) Mencuci mulut,berikan produk pencuci mulut untuk menyegarkan nafas 3) Memberikan gliserin ,usapkan gliserin pada bibir untuk menghindari kekeringan 4) Memberi permen atau D Asuhan kebidanan pada BBL Asuhan kebidanan (kunjungan ke I) Tanggal/jam pengkajian: 19 April 2012/jam 11.30 WIB Tempat: Rumah pasien 1. Data subjektif a. Ibu mengatakan bayinya sudah menyusu tapi suka rewel sehingga ibu memberikan madu pada bayi. b. Ibu mengatakan membungkus tali pusat bayi dengan kassa betadine 2. Data objektif a. Data Umum ETUh. Tujuan Pembelajaran 1. Mahasiswa dapat menjelaskan asuhan sayang ibu pada kala 2 persalinan dengan benar 2. Mahasiswa dapat menjelaskan posisi meneran kala 2 dengan benar 3. Mahasiswa dapat menjelaskan asuhan kala 2 persalinan dengan tepat. ASUHAN KEBIDANAN PADA IBU BERSALIN Asuhan Kebidanan Pada Ibu Bersalin KALA I Tanggal 18-12-2010 jam WIB Tempat BPS Bd. Juju, Sumedang 1. Data subjektif a. Biodata - Nama Ibu Ny. R - Umur 20 tahun - Agama Islam - Pendidikan SMP - Pekerjaan tidak bekerja - Alamat hurip RT. 03 RW. 08 kaler Kec. Sumedang Utara - Suami - Umur 36 tahun - Agama Islam - Pendidikan SMA - Pekerjaan Wiraswasta - Alamat hurip RT 03 RW 08 Kaler Kec. Sumedang Utara b. Riwayat Kehamilan Sekarang HPHT 20-01-2010 ibu merasa hamil 8 bulan,kehamilan ini merupakan kehamilan yang pertama. Selama ini memeriksakan kehamilan di bidan. Telah mendapat tablet penambah darah sebanyak 90 tablet,dikonsumsi secara teratur sehari 1 tablet diminum dengan air putih. Telah d imunisasi TT secara teratur 2x pada umur kehamilan 3 dan 4 bulan. Gerakan janin mulai dirasakan sejak kehamilan umur kurang lebih 5bln dan masih dirasakan sampai sekarang. Obat yang diminum hanya dari bidan. Ibu mengetahui sedikit tentang tanda bahaya pada kehamilan dan mengeluh pegal-pegal pada tangan dan kaki. c. Riwayat kesehatan/penyakit yang di derita Ibu tidak pernah menderita penyakit-penyakit yang berat seperti penyakit jantung, darah tinggi, kencing manis, ginjal, asma, HIV/AIDS dan penyakit berat lainnya. d. Riwayat sosial ekonomi Pernikahan lamanya kurang lebih satu tahun, ibu sangat bahagia dengan kehamilannya. Sebelum hamil ibu tidak menggunakan KB. Pengambilan keputusan oleh suami. Makan sehari 3 kali, dengan menu nasi, tempe, sayur, telur dan dan buah-buahan jarang dikonsumsi .tidak ada makanan yang di pantang. Tidak punya kebiasaan merokok dan minum minuman keras. Pekerjaan rumah tangga dikerjakan sendiri. Selama kehamilan hubungan seksual tidak ada masalah. Rencana melahirkan di bidan. e. Data Subjektif Ibu datang ke rumah jam WIB. Ibu mengeluh mulai mules-mules sejak jam WIB, disertai keluar lendir campur darah.. jam WIB mules bertambah kuat dari pinggang menjalar ke perut bagian bawah. Gerakan janin masih dirasakan, semalam ibu kurang istirahat, BAK sering, BAB terakhir jam WIB serta makan dan minum terakhir jam WIB. 2. Data Objektif a. Pemeriksaan Fisik Keadaan umum baik, ibu tampak kesakitan karena his Tanda Vital Tekanan Darah 120/80 mmHg Denyut Nadi 84 /menit Suhu Tubuh 36 °C Pernafasan 20 /menit Abdomen kandung kemih kosong. TFU 34 cm, posisi ounggung kiri, presasentasi kepala, penurunan kepala 2/5, DJJ 140 x/menit, irama reguler. His +, frekuensi 4 x dalam 10 menit lamanya 40 detik b. Pemeriksaan Dalam V/V Tidak ada kelainan Portio Tipis Lunak Pembukaan 4 cm Ketuban Utuh Presentasi Kepala Penurunan Kepala H III+. Ubun-ubun kecil kiri depan, tidak ada bagian yang terkemuka. c. Assesment G1 P0A0 parturien aterm kala I fase aktif, janin tunggal hidup intrauterine, presentasi kepala. Keadaan ibu dan janin baik. d. Planning Membina kembali hubungan baik ibu dan keluarga Memberitahukan hasil pemeriksaan pada ibu dan keluarga Melakukan informed consent à ibu menandatanginya. Memantau kemajuan persalinan, keadaan ibu dan janin dengan partograf à partograf terlampir Menawarkan pendamping persalinan à ibu memilih suaminya Menawarkan posisi yang nyaman sesuai keinginan ibu à ibu memilih untuk jalan-jalan dan jongkok bila ada his Memberikan informasi tentang proses persalinan Menawarkan makan atau minum dísela his à minum ± 100 cc air teh manis Memberikan dukungan mental dan spiritual pada ibu à ibu nampak berdoa setiap ada his Mengajarkan dan membimbing teknik relaksasi dísela ada his untuk mengurangi rasa nyeri dan menganjurkan ibu untuk istirahat atau bila tidak ada his à ibu menarik nafas dan mengeluarkannya dari mulut setiap ada his Menganjurkan pada ibu untuk tidak menahan BAK dan BAB setiap menginginkan à jam WIB ibu BAK urine ± 150 cc Menyiapkan alat partus, alat resusitasi, kelengkapan bayi dan ibu à partus set, alat resusitasi bayi, kelengkapan ibu dan bayi sudah lengkap Asuhan Kebidanan Pada Ibu Bersalin Kala II Tanggal 10 Oktober 2010 Jam WIB Tempat BPS Bd. Juju, Sumedang 1. Data Subjektif Ibu mengatakan mulesnya makin seringdan kuat, ada perasaan ingin mengedan, pinggang terasa sakit dan keluar air-air dari jalan lahir. 2. Data objektif a. Pemeriksaan fisik Keadaan umum Baik Abdomen Palpasi His kuat 5 kali dalam 10 detik Auskultasi DJJ 144 X / menit irama reguler b. Pemeriksaan Dalam V / V Tidak ada kelainan, tampaklendir campur darah Pembukaan Lengkap Ketuban - pecah spontan jam WIB, cairan berwarna jernih Penurunan Kepala H IV, ubun-ubun kecil kiri depan tidak ada bagin yang menumbung 3. Assesment G1 P0A0 parturien aterm kala II fase aktif,keadaan ibu dan janin baik dengan kemajuan persalinan normal. 4. Planning Memberitahukan hasil pemeriksaan padaibu dan keluarga. Menghadirkan pendamping persalinan sesuai dengan keinginan ibu à ibu ingi didampingi suaminya. Menawarkan kepada ibu untuk memilih posisi meneran yang nyaman à ibu ingin posisi setengah duduk. Membibing meneran pada saat ada HIS dan saat ibu mempunyai dorongan saat meneran. Memberi pujian jika ibu dapat meneran dengan baik. Memberi dukungan moral dan spiritual pada ibu. Menawarkan minum disela HIS à ibu minum ± 100 cc air teh manis. Mengecek kembali kelengkapan alat partus set dan kelangkapan lainnya untuk ibu dan bayi à partus set dan kelengkapan lainnya lengkap. Menolong persalinan secara APN à jam WIB bayi lahir spontan segera menangis jenis kelamin laki-laki. Asuhan Kebidanan Pada Ibu Bersalin Kala III Tanggal 10 oktober 2010 Jam WIB Tempat BPS Bd. Juju. Sumedang 1. Data Subjektif Ibu mengatakan mules 2. Data Objektif Keadaan umum ibu baik, plasenta belum lahir. 3. Assesment P0A0 parturien aterm kala III keadaan umum ibu baik 4. Planning Memberitahukan hasil pemeriksaan pada ibu dan keluarga. Memastikan kandung kemih kosong à kandung kemih kosong. Memastikan janin tunggal à janin tunggal. Melakukan manajemen aktif kala III Memberitahukan ibu akan disuntik Menyuntik Oxytocin 10 IU secara IM Melakukan PTT, dengan menahan uterus kearah dorso cranial Melahirkan plasenta à jam WIB placenta lahir secara spontan Pengeluaran darah pervaginam à pengeluaran darah ± 300 cc. Asuhan Kebidanan Pada Ibu Bersalin Kala IV Tanggal 10 oktober 2010 Jam WIB Tempat BPS Bd. Juju. sumedang 1. Data Subjektif 2. Data Objektif Jam WIB placenta lahir spontan, pengeluaran darah ± 300 cc 3. Assesment P0A0 parturien aterm kala IV keadaan umum ibu baik 4. Planning Memberitahukan hasil pemeriksaan pada ibu dan keluarga Melakukan massage uterus à kontraksi uterus baik Memeriksa robekan jalan lahir à tidak ada laserasi Mengajarkan ibu dan keluarga cara menilai kontraksi uterus dan cara melakukan massage uterus jika uterus kurang baik à respon ibu baik dan mau mengikuti cara untuk melakukan massge. Memantau kontraksi uterus, TFU, pengeluaran pervaginam , kandung kemih dan tanda vital tiap 15 menit pada jam pertama dan 30 menit pada jam kedua à hasil terlampir pada patograf. Membersihkan badan dan mengganti pakaian ibu dengan baju yang bersih dan kering à ibu tampak nyaman. Mendekontaminasikan alat-alat partus dalam larutan clorine 0,5 % selama 10 menit lalu memprosesnya. Melaksanakan kontak dini ibu dan bayi dengan mendekap dan menyusui bayi nya Mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir. Mengucapkan selamat pada ibu dan keluarga. Mengajarkan ibu untuk istirahat, makan dan minum. Tujuan Pembelajaran 1. Mahasiswa dapat menjelaskan pemantauan kemajuan persalinan, kesejahteraan ibu dan janin pada kala 1 dengan tepat 2. Mahasiswa dapat menjelaskan persiapan persalinan dengan tepat 3. Mahasiswa dapat menjelaskan tanda bahaya kala 1 dengan tepat. Menurut definisi WHO kematian maternal ialah kematian seorang wanita waktu hamil atau dalam 42 hari sesudah berakhirnya kehamilan atau sebab apapun, terlepas dari tuanya kehamilan dan tindakan yang dilakukan untuk mengakhiri kehamilan Sarwono, 2005. Tingginya kasus kesakitan dan kematian ibu di Negara berkembang terutama disebabkan oleh perdarahan pasca persalinan, eklampsia, sepsis, komplikasi, keguguran, terlalu sering melahirkan atau banyak mempunyai anak Depkes RI, 2003. Penyebab utama kesakitan dan kematian ibu tersebut sebenarnya dapat dicegah dengan pemeriksaan kehamilan Antenatal care/ ANC yang memadai GOI dan UNICEF, 2000. Salah satu sasaran yang ditetapkan untuk tahun 2015 adalah menurunkan angka kematian ibu menjadi 102 per kelahiran hidup dan angka kematian bayi menjadi 15 per kelahiran hidup Saifuddin, 2006. Survey Demografi dan Kesehatan Indonesia SDKI tahun 2007 menyebutkan Angka Kematian Ibu AKI sebesar 228/ kelahiran hidup sedangkan Angka Kematian Bayi AKB sebesar 43/ kelahiran hidup, dimana angka tersebut masih tinggi jika dibandingkan dengan AKB di negara ASEAN lainnya. Hal ini menunjukkan bahwa pelayanan kesehatan ibu dan anak sangat mendesak untuk ditingkatkan termasuk untuk mencegah terjadinya wabah penyakit yang dapat mengakibatkan kematian. Masalah kesehatan ibu di Indonesia merupakan masalah kesehatan masyarakat yang perlu mendapatkan perhatian utama karena mempunyai dampak berat terhadap kualitas generasi yang akan datang. A. Pengertian Persalinan pada kala I Persalinan pada kala I adalah pembukaan yang berlangsung saat persalinan mulai pembukaan nol sampai pembukaan lengkap 10cm. proses ini terbagi menadi 2 fase, yaitu 1. fase laten, berlangsungnya selama 8 jam, serviks membuka sampai 3cm. 2. fase aktif, berlangsungnya selama 7 jam, serviks membuka dari 4cm sampai 10cm, kontraksi lebih kuat dan sering, dibagi menjadi 3 fase Fase akselerasi, dalam waktu 2 jam pembukaan 3cm menjadi 4cm. Fase dilatasi maksima, dalam waktu 2 jam pembukaan berlangsung sangat cepat dari 4cm menjadi 9cm. Fase deselerasi, pembukaan menjadi lambat sekali, dalam waktu 2 jam pembukaan 9cm menjadi lengkap. Proses diatas terjadi pada primigravida ataupun multigravida, tetapi pada multigravida memiliki jangka waktu yang lebih pendek. Pada primigravida, kala I berlangsung ±12jam, sedangkan pada multigravida ±8 jam. B. Perubahan fisiologis dan psikologis pada kala I Sejumlah perubahan fisiologis yang normal akan terjadi selama persalinan. Hal ini bertujuan untuk mengetahui perubahan-perubahan yang dapat dilihat secara klinis bertujuan untuk dapat secara tepat dan cepat mengintreprestasikan tanda-tanda gejala tertentu dan penemuan perubahan fisik dan laboratorium apakah normal apa tidak persalinan kala I. a Perubahan fisiologis pada kala I 1. Perubahan tekanan darah Perubahan darah meningkat selama konstraksi uterus dengan kenaikan sistolik rata-rata sebesar 10-20mmHg dan kenaikan diastolik rata-rata 5-10 mmHg diantara konstraksi-konstraksi uterus,tekanan darah akan turun seperti sebelum masuk persalinan dan akan naik lagi bila terjadi konstraksi. Arti penting dan kejadian ini adalah untuk memastikan tekanan darah yang sesungguhnya,sehingga diperlukan pengukuran diantara konstraksi. Jika seorang ibu dalam keadan yang sangat takut/khawatir,rasa takutnyalah yang menyebabakan kenaikan tekanan darah. Dalam hal ini perlu dilakukan pemeriksaan lainnya untuk mengesampingkan preeklamsia. Oleh karena itu diperlukan asuhan yang mendukung yang dapat menimbulkan ibu rileks/santai. Posisi tidur telentang selama bersalin akan menyebabkan penekanan uterus terhadap pembuluh darah besar aorta yang akan menyebabkan sikulasi darah baik untuk ibu maupun janin akan terganggu,ibu dapat terjadi hipotensi dan janin dapat asfiksia. Selama persalinan baik metabolisme karbohidrat aerobik maupun anaerobik akan naik secara perlahan. Kenaikan ini sebagian besar diakibatkan karena kecemasan serta kegiatan otot rangka tubuh. Kegiatan metabolisme yang meningkat tercermin dengan kenaikan suhu badan, denyut nadi, pernapasan, kardiak output dan kehilangan cairan. Suhu badan akan sedikit meningkat selama persalinan,suhu mencapai tertinggi selama persalinan dan segera setelah persalinan. Kenaikan ini dianggap normal asal tidak melebihi 0,5-1 derjat C. Suhu badan yang naik sedikit merupakan hal yang wajar,namun keadaan ini berlangsung lama,keadaan suhu ini mengindikasikan adanya dehidrasi. Parameter lainnya harus dilakukan antara lain selaput ketuban pecah atau belum,karena hal ini merupakan tanda infeksi. Penurunan yang menyolok selama acme konstraksi uterus tidak terjadi jika ibu berada dalam posisi miring bukan posisi terlentang. Denyut jantung diantara konstraksi sedikit lebih tinggi dibanding selama periode persalinan atau belum masuk persalinan. Hal ini mencerminkan kenaikan dalam metabolisme yang terjadi selama persalinan. Denyut jantung yang sedikit naik merupakan hal yang normal,meskipun normal perlu dikontrol secara periode untuk mengidentifikasi infeksi Kenaikan pernafasan dapat disebabkan karena adanya rasa nyeri,kekhawatiran serta penggunaan tehnik pernafasan yang tidak benar. Untuk itu, bidan perlu mengajarkan pada ibu mengenai teknik pernafasan menghindari hiperventilasi yang ditandai oleh adanya perasaan pusing. Poliuri sering terjadi selama persalinan, hal ini disebabkan oleh kardiak output yang meningkat serta glomelurus serta aliran plasma ke renal. Poliuri tidak begitu kelihatan dalam posisi terlentang,yang mempunyai efek mengurangi aliran urine selama persalinan. Protein dalam urine +1 selama persalinan merupakan hal yang wajar, keadaan ini lebih sering pada ibu primipara,anemia,persalinan lama atau pada kasus pre ekslamsia. 7. Perubahan gastrointestinal Kemampuan pergerakan gastrik serta penyerapan makanan padat berkurang akan menyebabkan pencernaan hampir berhenti selama persalinan dan akan menyebabkan konstipasi. Haemoglobin akan meningkat 1,2gr/100ml selama persalinan dan kembali ketingkat pra persalinan pada hari pertama. Jumlah sel-sel darah putih meningkat secara progessif selama kala satu persalinan sebesar 5000s/d WBC sampai dengan akhir pembukaan lengkap. Hal ini tidak berindikasi adanya infeksi. Gula darah akan turun selama dan akan turun secara menyolok pada persalinan yang mengalami penyulit atau persalinan lama. Konstraksi uterus terjadi karena adanya rangsangan pada otot polos uterus dan penurunan hormon progesteron yang menyebabkan keluarnya hormon oksitosin. 10. Pembentukan segmen atas rahim dan segmen bawah Rahim Segmen Atas Rahim SAR terbentuk pada uterus bagian atas dengan sifat otot yang lebih tebal dan kontraktif,terdapat banyak otot sorong dan terbentuk dari fundus sampai ishimus uteri Segmen Bawah rahim SBR terbentang di uterus bagian bawah antara ishimus dengan serviks dengan sifat otot yang tipis dan elastis,pada bagian ini banyak terdapat otot yang melingkar dan memanjang. 11. Perkembangan retraksi ring Retraksi ring adalah batas pinggiran antara SAR dan SBR,dalam keadaan persalinan normal tidak tampak dan akan kelihatan pada persalinan obnormal, karena konstraksi uterus yang berlebihan,retraksi ring akan tampak sebagai garis atau batas yang menonjol di atas simpisis yang merupakan tanda dan ancaman ruptur uterus. Pada akhir kehamilan otot yang mengelilingi ostium uteri internum OUI ditarik oleh SAR yang menyebabkan serviks menjadi pendek dan menjadi bagian dari SBR. Bentuk serviks menghilang karena canalis servikalis membesar dan membentuk Ostium Uteri Eksterna OUE sebagai ujung dan bentuknya menjadi sempit. 13. Pembukaan ostium oteri interna dan oteri ekterna Pembukaan serviks disebabbkan karena membesarnya OUE karena otot yang melingkar disekitar ostium meregang untuk dapat dilewati kepala. Pembukaan uteri tidak saja terjadi karena penarikan SAR akan tetapi karena tekanan isi uterus yaitu kepala dan kantong amnion. Pada primigravida dimulai dari ostium uteri internum terbuka lebih dahulu baru ostium eksterna membuka pada saat persalinan trejadi. Sedangkan pada multi gravida ostium uteri internum dan eksternum membuka secara bersama-sama pada saat persalinan terjadi. Adalah pengeluaran dari vagina yang terdiri dan sedikit lendir yang bercampur darah,lendir ini berasal dari ekstruksi lendir yang menyumbat canalis servikalis sepanjang kehamilan,sedangkan darah berasal dari desidua vera yang lepas. 15. Tonjolan kantong ketuban Tonjolan kantong ketuban ini disebabbkan oleh adanya regangan SBR yang menyebabkan terlepasnya selaput korion yang menempel pada uterus,dengan adanya tekanan maka akan terlihat kantong yang berisi caiaran yang menonjol ke ostium uteri internum yang terbuka. Cairan ini terbagi dua yaitu fore water dan hind water yang berfungsi melindungi selaput amnion agar tidak terlepa seluruhnya. Tekanan yang diarahkan ke cairan sama dengan tekana ke uterus sehingga akan timbul generasi floud presur. 16. Pemecahan kantong ketuban Pada akhir kala I bila pembukaan sudah lengkap dan tidak ada tahanan lagi,ditambah dengan konstraksi yang kuat serta desakan janin yang menyebabkan kantong ketuban pecah, diikuti dengan proses kelahiran bayi. b Perubahan psikologis pada kala I Beberapa keadan dapat terjadi pada ibu dalam persalinan,terutama pada ibu yang pertama kali melahirkan sebagai berikut 1. Perasaan tidak enak 2. Takut dan ragu akan persalinan yang akan dihadapi 3. Sering memikirkan antara lain apakah persalinan berjalan normal 4. Menganggap persalinan sebagai percobaan 5. Apakah penolong persalinan dapat sabar dan bijaksana dalam menolongnya. 6. Apakah bayinya normal apa tidak 7. Apakah ia sanggup merawat bayinya 8. Ibu merasa cemas C. Kebutuhan persalinan kala I 1. Kebutuhan Fisiologis a. Oksigen b. Makan dan minum c. Istirahat selam tidak ada his d. Kebersihan badan terutama genetalia e. Buang air keil dan buang air besar f. Pertolongan persalinan yang terstandar g. Penjahitan perineum bila perlu 2. Kebutuhan rasa aman a. Memilih tempat dan penolong persalinan b. Informasi tentang proses persalinan atau tindakan yang akan dilakukan c. Posisi tidur yang dikehendaki ibu d. Pendampingan oleh keluarga e. Pemantauan selama persalinan f. Intervensi yang diperlukan 3. Kebutuhan dicintai dan mencintai a. Pendampingan oleh suami / keluarga b. Kontak fisik memberi sentuhan ringan c. Masase untuk mengurani rasa sakit d. Berbicara dengan suara yang lemah, lembut, serta sopan 4. Kebutuhan harga diri a. Merawat bayi sendiri dan menetekinya b. Asuhan kebidanan dengan memperhatikan privacy ibu c. Pelayanan yang bersifat simpati dan empati d. Informasi bila akn melakukan tindakan e. Memberikan pujian pada ibu terhadap tindakan positif yang ibu lakukan 5. Kebutuhan aktualisasi diri a. Memilih tempat dan penolong sesuai keinginan b. Memilih pendamping salama persalinan c. Bounding and attachment d. Ucapan selamat atas kelahiran anaknya D. Memberikan dukungan persalinan Kehamilan dan persalinan akan menimbulkan kecemasan ansietas bagi banyak wanita. Untuk mengurangi kecemasan wanita, bidan harus mengetahui factor psikososial yang terkait dengan persalinan. Dengan memberikan kondisi dan lingkungan yang tepat, baik berupa fisik maupun emosional, kaum wanita dapat mengadopsi mekanisme koping yang dapat menurunkan kecemasan. 1. Dampak emosional dalam persalinan Proses persalinan dapat berdampak jangka panjang bagi wanita, efek dapat bersifat positif dan negative tergantung dari kepuasan mereka terhadap pelayanan saat persalinan. Pengalaman persalinan dan kepuasan terhadap pelayanan saat persalinan dapat meningkatkan harga diri atau kepercayaan diri dan memori positif. Dukungan suami dan anggota keluarga yang lain untuk mendampingi ibu selama persalinan dan kelahiran. Anjurkan suami untuk berperan aktif dalam mendukung dan mengenali langkah-langkah yang mungkin akan sangat membantu kenyamanan ibu. Hargai keinginan ibu untuk didampingi oleh teman atau saudara yang khusus. Dalam kala satu, petugas kerjasama dengan anggota keluarga untuk Mengucapkan kata-kata yang membesarkan hati dan pujian kepada ibu. Membantu ibu bernapas pada saat kontraksi. Memijat punggung, kaki atau kepala ibu dan tindakan-tindakan bermanfaat lainnya. Menyeka muka muka ibu dengan lembut, menggunakan kain yang dibasahi air hangat atau dingin. Menciptakan suasana kekeluargaan dan rasa aman. Penting bagi bidan untuk menciptakan lingkungan persalinan yang nyaman dan aman bagi ibu. Pada sebagian wanita yang lebih suka melahirkan dirumah sendiri karena merupakan lingkungan yang suah dikenal, ia dapat mempertahankan privasi yang dikelilingi orang-orang yang diinginkannya, yang akan memberi dukungan dan ketenangan pada dirinya. Namun, sebagian wanita lebih tenang melahirkan dilingkungan yang memiliki teknologi dan tersedia dan pelayanan dari para ahli. Keseimbangan dapat disediakan dengan membuat unit maternitas menjadi tidak bersifat institusional, dengan system pemberian asuhan yang memungkinkan ibu dan keluarganya mendapatkan jenis dan standar asuhan yang memenuhi kebutuhan fisik, emosional, sosial dan psikologis mereka. 3. Dukungan dari pemberi asuhan Dukungan dari pemberi asuhan dalam persalinan harus bersfat fisik dan emosional. Dukungan tersebut juga meliputi beberapa aspek perawatan seperti menggosok punggung wanita, mempertahankan kontak mata, ditemani oleh orang-orang yang ramah, dan diberi janji bahwa ibu bersalin tidak akan ditinggal sendirian. Kemampuan memberikan dukungan emosional untuk wanita dalam persalinan merupakan sesuatu yang dikembangkan bidan. Dukungan emosional ini mencakup keterampilan komunikasi dan konseling. E. Pengurangan rasa sakit Berdasarkan hasil penelitian, pemberian dukungan secara fisik, emosional, dan psikologis selama persalinan akan dapat membantu mempercepat proses persalinan dan membantu ibu memperoleh kepuasan dalam melalui proses persalinan normal. Metode mengurangi rasa nyeri yang dilakukan secara terus-menerus dalam bentuk dukungan harus dipilih yang bersifat sederhana, berbiaya rendah, berisiko rendah, membantu kemajuan persalinan, serta hasil persalinan bertambah baik dan bersifat sayang ibu. Menurut varney, pendekatan untuk mengurangi rasa sakit dapat dilakukan dengan cara-cara berikut 1. Mengahadirkan seseorang yang dapat memberikan dukungan selama persalinan suami/orangtua. 2. Pengaturan posisi; duduk atau setengah duduk, merangkak, bejongkok, berdiri atau berbaring miring ke kiri. 4. Istirahat dan privasi. 5. Penjelasan mengenai proses/kemajuan persalinan/prosedur yang akan dilakukan. Beberapa teknik dukungan untuk mengurangi rasa sakit adalah sebagai berikut 1. Seseorang pendamping yang terus-menerus, sentuhan yang nyaman, dan dorongan dari orang yang memberikan dukungan. 2. Perubahan posisi dan pergerakan. 4. Counterpressure untuk mengurangi tegangan pada ligamen. 5. Pijatan ganda pada panggul. 7. Kompres hangat dan kompres dingin. 10. Visualisasi dan pemusatan perhatian dengan berdoa 11. Musik yang lembut dan menyenangkan ibu. Sebelum persalinan, banyak hal yang perlu dipersiapkan yang sifatnya beragam. Proses persalinan dapat dilakukan di rumah atau di rumah bersalin, di tempat tidur biasa atau khusus, dan mengambil berbagai posisi yamg mungkin atau dengan kaki berada pada tempat pijakan kaki, berjongkok, atau berdiri. Tanpa memperhatikan tempat persalinan, waktu persalinan pada sejumlah persiapan kelahiran harus diatur dengan baik atau bidan tidak akan siap. Pada semua tempat persaninan, hal ini mencakup penyediaan semua instrument dan suplai yang digunakan oleh bidan, serta memastikan semuanya siap dan mudah diakses minimal bidan menggunakan sarung tangan steril atau DTT, spuit steril, 2 klem tali pusat, gunting tali pusat, ½ Kocher, gunting episiotomi, kateter, penghisap lender bayi, kasa segi empat ukuran 4x4, selimut untuk menerima bayi, dan penutup kepala bayi. Persiapan persalinan di berbagai tempat, memiliki beberapa persamaan penting yang cukup valid dan bermanfaat, yaitu sebagai berikut Persiapan persalinan harus dimulai setelah pembukaan lengkap dan setelah ibu mengejan beberapa lama. Akan tetapi, hal ini tergantung pada seberapa jauh kepala janin telah turun. Persiapan persalinan harus dimulai sebelum pembukaan lengkap, kurang lebih pada saat pembukaan telah mencapai 8cm. apabila menunggu lama, maka mungkin akan menghadapi persalinan yang tidak terkontrol sebelum selesai mempersiapkan persalinan. Ada 5 komponen penting dalam merencanakan persalinan, di antaranya 1. Membuat rencana persalinan Memilih tenaga kesehatan terlatih Cara menghubungi tenaga kesehatan Transportasi ke tempat persalinan Biaya dan cara mengumpulkan biaya Siapa yang akan menjaga keluarga jika ibu tidak ada Membuat rencana untuk pengambilan keputusan jika terjadi di kegawatdaruratan pada saat pengambil keputusan utama tidak ada. 3. Persiapan kegawatdaruratan Mempersiapkan system transportasi jika terjadi kegawatdaruratan. Banyak ibu yang meninggal karena mengalami komplikasi yang serius selama kehamilan, persalinan atau pasca persalinan dan tidak mempunyai jangkauan transportasi yang dapat membawa mereka ke tingkat asuhan kesehatan yang dapat memberikan asuhan kompeten untuk menangani masalah mereka. 4. Membuat rencana/pola menabung Keluarga di anjurkan untuk menabung sejumlah uang untuk persediaan dana guna asuhan selama kehamilan dan jika terjadi kegawatdaruratan. 5. Mempersiapkan peralatan yang diperlukan untuk persalinan Ibu dan keluarga dapat mengumpulkan barang-barang seperti pembalut wanita, sabun, baju ibu, baju bayi dan lain-lain dan meyimpannya untu persiapan persalinan. DAFTAR PUSTAKA Sondakh, Jenny. Asuhan Kebidanan Persalinan & Bayi Baru Lahir. 2013. Jakarta Erlangga Indrayani, Djami MEU. Asuhan Persalinan dan Bayi Baru Lahir. 2013. Jakarta TIM

asuhan kebidanan pada ibu bersalin kala 1 2 3 4